PROPOSAL PTK PENDEKATAN PSI OLEH FX PARSONO

PROPOSAL PTK

Oleh :

FX. Parsono, S. Pd. SMP Negeri 2 Kebakkramat

 

Judul PTK :

Upaya Peningkatkan Ketuntasan Belajar  Dengan Pendekatan Personalized System of Instruction ( PSI ) Dalam Materi Pemberantasan KKN pada Siswa Kelas 8 F  Sekolah Menengah Petama Negeri 2 Kebakkramat  Tahun Pelajaran 2012/ 2013 Semester 2

A. PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang Masalah

Dalam proses pembelajaran guru dihadapkan persoalan belum tuntasnya para siswa dalam penguasaan kompetensi dasar. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan seorang guru dapat dikatakan berhasil dalam proses pembelajaran apabila secara individu seorang siswa telah mencapai nilai  75 pada setiap kompetensi dasar dan yang telah mencapai nilai 75 secara klasikal berjumlah 85 %.  Tetapi  dalam kenyataannya yang mencapai nilai  ketuntasan belajar  ( nilai 75 ) masih sangat rendah. Ada siswa yang hasil belajarnya di atas rata – rata ketuntasan belajar  75 %,  tetapi ada pula siswa yang hasil belajarnya di bawah rata – rata daya serap ketuntasan atau kurang dari 75 %.

Setiap satuan pendidikan  KKM yang ditetapkan berbeda dengan satuan pendidikan  lain. Di SMP Negeri 2 Kebakkramat KKM unruk mata pelajaran PKn 76 artinya siswa yang dikatakan telah tuntas belajar apabila nilai siswa tersebut 76. Nilai siswa dalam klasikal yang memperoleh 76 telah mencapai 85 %.  Kenyataan ini  terjadi di kelas 8 F SMP Negeri 2 Kebakkramat belum mencapai tuntutan itu maka perlu adanya pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa tertingkat ketuntasannya.

Berbicara masalah hasil belajar  yang menjadi ukuran keberhasilan  adalah nilai siswa setelah materi disajikan. Keberhasilan tersebut apabila telah mencapai nilai 76 secara individu dan secara klasikan telah mencapai 85 % berarti telah tuntas. Jika kita memperhatikan daftar nilai masing –masing siswa, akan tampak sederetan nilai yang bervariasi. Angka nilai  yang bervariasi itu memberi gambaran dan pentunjuk pada kita bahwa proses pembelajaran tersebut belum tuntas..

Sehubungan pengalaman peneliti tersebut, maka melalui pelaporan ini penulis mencoba membahas kompetensi dasar pelaksanaan demokrasi dalam kehidupan. Materi ini merupakan matari pelajaran untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta menumbuhkan berpikir praktis.

Tindak  lanjut yang sering disebut perbaikan merupakan tugas guru yang harus dilakukan, sebab tindakan perbaikan merupakan salah satu tugas pokok guru. Tugas pokok guru yang harus dilaksanakan meliputi: a) menyusun program pembelajaran;  b) melaksanakan program pembelajaran atau penyajian materi pembelajaran; c) mengadakan penilaian atau evaluasi pembelajaran, d) melaksanakan analisis dan e) mengadakan perbaikan atau remidi.

Maka dilihat dari hasil evaluasi yang disajikan guru untuk mengukur tingkat penguasaan materi tersebut ternyata materi tersebut belum mencapai daya serap ketuntasan, untuk itu guru mempunyai kewajiban mengadakan perbaikan.

Guru dalam melaksanakan program perbaikan tentang materipemberantasan KKN dapat berhasil secara maksimal perlu mengadakan penelitian. Penelitian ini untuk mencari faktor penyebab rendahnya tingkat ketuntasan belajar siswa kelas 8 F tersebut.

Agar guru dapat mengetahui faktor rendahnya penguasaan materipemberantasan KKNtersebut perlu membuat rencana untuk mengadakan penelitian perbaikan pembelajaran. Rencana yang dilakukan penulis adalah mengadakan observasi dan mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh para siswa kelas 8 F SMP Negeri 2 Kebakkramat Tahun pelajaran 2010/2011.

Fakta di lapangan bahwa siswa SMP Negeri 2 Kebakkramat prestasi belajar PKn pada siswa kelas VIII F belum tuntas belajar yang ditentukan dalam KKM. Hal ini ditunjukkan dari hasil tes awal yang diberikan kepada siswa yang berjumlah 32 anak, sebanyak 18 anak atau sekitar 56,25 % mendapat nilai dibawah standar ketuntasan 76.

Rendahnya prestasi belajar PKn tersebut perlu diperbaiki melalui tindakan yang dilakukan oleh guru dengan mencoba mengubah metode pembelajaran konvensional dengan metode yang lebih bervariatif diantaranya dengan menerapkan strategi pembelajaran penggunaan lembar kerja siswa. Dengan metode ini diharapkan prestasi belajar siswa akan meningkat. Nilai rata-rata ulangan harian yang diharapkan setelah penelitian adalah 76 keatas atau mencapai batas nilai ketuntasan belajar PKn.

Berdasarkan uraian di atas nampak adanya kesengajaan antara kondisi nyata dengan harapan. Kesengajaan pokok dari subyek yakni dari kondisi awal prestasi belajar PKn yang rendah sedangkan kondisi akhir yang diharapkan prestasi belajar PKn meningkat. Kesengajaan pokok dari peneliti yakni pada kondisi awal peneliti masih menyampaikan materi dengan menggunakan metode pembelajaran yang konvensional,

2.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil ulangan diperoleh daya serap ( ketuntasan ) secara klasikal belum tuntas 85 %  dari jumlah 32  siswa  kelas 8 F. Selama jalannya proses pembelajaran di kelas berlangsung siswa kurang aktif tidak mau bertanya atau memberi tanggapan terhadap informasi guru tentang pelaksanaan demokrasi dalam kehidupan sehari – hari. Hal ini menunjukkan bahwa siswa kelas 8 F khususnya materipemberantasan KKN mengalami kesulitan belajar.

Dari uraian tersebut dapat diungkapkan  beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran di dalam kelas 8 F yaitu :

  1. Rendahnya tingkat penguasaan dan pemahaman siswa terhadap materi pelaksanaan demokrasi dalam kehidupan sehari – hari.
  2. Siswa pasif tidak berani bertanya
  3. Siswa takut salah dalam menjawab pertanyaan guru
  4. Siswa kurang adanya motivasi belajar
  5. Pembalajaran masih berpusat pada guru
  6. Siswa kurang berkompetisi untuk mendapat nilai tinggi
  1. 3.      Analisis Masalah

Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis di kelas 8 F tentang keadaan dan kondisi kelas diketahui adanya beberapa faktor yang menyebabkan siswa kurang menguasai materipemberantasan KKNyang disampaikan oleh guru antara lain :

  1. Penjelasan terlalu abstrak
  2. Kurangnya contoh dan latihan
  3. Kurangnya perhatian siswa ketika pembelajaran berlangsung
  4. Penyampaian materi terlalu cepat dan kurang optimal
  5. Kurangnya latihan –latihan penyelesaian tugas – tugas dalam lembar kegaiatan
  1. 4.      Perumusan Masalah

Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi fokus perbaikan adalah “  Apakah dengan Pendekatan Personalized System of Instruction ( PSI )  Meningkatkan Ketuntasan Belajar  Materi pemberantasan KKN pada Siswa Kelas 8 F  Sekolah Menengah Petama Negeri 2 Kebakkramat  Tahun Pelajaran 2010/ 2011 ? “.

  1. 5.      Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Adapun tujuan yang hendak dicapai bertolak dari permasalahan di atas, secara umum adalah upaya perbaikan proses dan perbaikan hasil dan meningkatkan ketuntasan belajar siswa

Sedangkan tujuan penelitian perbaikan pembelajaran secara khusus siswa dapat materi  menguasasi materipemberantasan KKN

6.  Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Memberikan sumbangan dan memperluas wawasan guru dibidang  penerapan metode pembelajaran yang inovatif.

b. Manfaat Praktis

1)      Bagi Siswa

a)         Meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran

b)         Meningkatkan prestasi belajar siswa

c)         Meningkatkan kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran

2)      Bagi Guru

a)         Suatu masukan pendekatan dengan pendekatan Personalized System of Instruction ( PSI )   untuk meningkatkan prestasi belajar PKn pada kompetensi dasar pemberantasan KKNuntuk siswa kelas VIII SMP

b)         Meningkatkan motivasi guru dalam memperbaiki mutu pembelajaran

3)      Bagi Sekolah

a)         Meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn

b)         Tumbuhnya iklim pembelajaran yang inovatif di sekolah.

  1. LANDASAN TEORI
    1. 1.      Belajar
      1. Pengertian Belajar

Belajar merupakan proses menuju perubahan-perubahan terhadap perilaku seseorang. Dalam proses ini seseorang memperoleh pengalaman yang dikembangkan sehingga seseorang mengalami perubahan tingkah laku.  Menurut Slameto (1995: 20), “ Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru  secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan”. Perubahan yang terjadi banyak sekali, baik sifatnya maupun jenisnya, karena itu sudah tentu tidak semua perubahan dalam diri sesorang merupakan perubahan dalam arti belajar.

Ciri-ciri perubahan tingklah laku dalam pengertian belajar menurut Slameto (1995: 20) antara lain :

  1. Perubahan terjadi secara wajar
  2. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
  3. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
  4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
  5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah
  6. Perubahan dalam belajar mencakup seluruh aspek tingkah laku.

Sejalan dengan pendapat di atas Gino (1997: 6) mengatakan bahwa, “Belajar adalah suatu kegiatan yang dapat menghasilkan perubahan tingkah laku, baik potensial maupun actual. Perubahan-perubahan itu berbentuk kemampuan-kemampuan baru yang dimiliki dalam waktu yang relatif lama (konstan)”.

Adapun menurut Purwoto (1997: 24), “ Belajar adalah suatu proses yang berlangsung dari suatu keadaan tidak tahu menjadi tahu, atau dari tahu menjadi lebih tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dari belum cerdas menjadi cerdas, dari sikap belum baik menjadi sikap baik, dari pasif menjadi aktif , dari tidak teliti menjadi teliti dan seterusnya”.

“Secara umum belajar boleh dikatakan sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungannya, yang mung-kin berwujud pribadi, fakta, konsep, maupun teori” (Sardiman,1994 : 24). Hal diatas dimaksudkan, belajar merupakan perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu, individu dengan lingkungannya.

Jadi, dari definisi-definisi di atas, belajar dapat diartikan sebagai perubahan. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah mengubah tingkah laku. Belajar akan menghasilkan perubahan pada individu-individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya berkaitan dengan penambahan ilmu pengetahuan tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap pengertian, harga diri, minat, watak, dan penyesuaian diri.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Belajar sebagai proses atau aktivitas dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Suryabrata (1995: 249) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah : Faktor yang berasal dari luar diri pelajar, yaitu (a) faktor-faktor non sosial dan (b) faktor-faktor sosial, Faktor yang berasal dari dalam diri pelajar, yaitu : (c) faktor-faktor fisiologis dan (d) faktor-faktor psikologis

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar di atas dijelaskan sebagai berikut :

1)      Faktor-faktor Non Sosial

Contoh  dari faktor non sosial ini adalah keadaan udara, cuaca, waktu (pagi, siang, malam), tempat (letaknya dan pergedungan), alat-alat yang dipakai untuk belajar ( seperti alat tulis, buku- buku, alat peraga)

2)      Faktor-faktor Sosial

Yang dimaksud faktor-faktor non sosial adalah faktor manusia. Misalnya saaat belajar ada orang yang masuk (hadir), ada orang yang bercakap-cakap. Hal ini dapat mengganggu dalam proses belajar mengajar.

3)      Faktor-faktor Fisiologis

Faktor fisiologis meliputi keadaan jasmani, selain itu juga fungsi – fungsi panca indra (mata, telinga, hidung kulit, lidah).

4)      Faktor-faktor Psikologis

Faktor-faktor ini meliputi bakat, minat, kecerdasan, motivasi, emosi, dan kemampuan kognitif.

2.      Prestasi Belajar PKn

a.                  Prestasi Belajar

Setiap usaha atau kegiatan yang dilakukan seseorang akan menghasilkan sesuatu. Hasil yang diperoleh dari suatu usaha atau kegiatan itulah yang dusebut prestasi.  Prestasi belajar menurut Sumantri, M. (2001:3) : “Prestasi adalah hasil dari kemampuan, keterampilan dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal”.  Adapun Poerwanto (2010) menjelaskan bahwa prestasi adalah “Belajar adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajarnya”. Dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa :  prestasi belajar adalah hasil usaha yang telah dicapai seseorang setelah melakukan usaha/kegiatan/aktivitas baik secara individu/mandiri atau kelompok. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan guru di sekolah, prestasi belajar biasanya dituangkan dalam bentuk angka (kuantitatif) dan pernyataan verbal.

  1. b.                  Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)

PKn merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat membentuk diri yang beragam dari segi agama, sosio-kultural, bahasa, usia, untuk menjadi warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang dilandasi oleh UUD 1945. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Depdiknas (2005:34) bahwa :

“ Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang secara umum bertujuan untuk mengembangkan potensi individu warga negara Indonesia, sehingga memiliki wawasan, sikap, dan keterampilan kewarganegaraan yang memadai dan memungkin-kan untuk berpartisipasi secara cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”. Dengan demikian PKn bertujuan mengembangkan potensi individu warga Negara.

Berdasarkan uraian di atas peneliti berpendapat bahwa dalam mata pelajaran PKn seorang siswa bukan saja menerima pelajaran berupa pengetahuan, tetapi pada diri siswa juga harus berkembang sikap, keterampilan, dan nilai-nilai. Untuk mencapai tujuan PKn tersebut, maka guru berupaya melalui kualitas pembelajaran yang dikelolanya. Upaya ini bisa dicapai jika siswa mau belajar dan dipandu oleh guru berusaha mengarahkan dan membentuk sikap serta perilaku siswa sebagaimana yang dikehendaki dalam pembelajaran PKn.

  1. c.                   Prestasi Belajar PKn

Prestasi belajar PKn adalah hasil belajar PKn, secara lebih khusus setelah siswa mengikuti pelajaran dalam kurun waktu tertentu berdasarkan penelitian yang dilaksanakan guru di sekolah yang dituangkan dalam bentuk angka dan pernyataan verbal (kualitatif).

3.      Personalized Sytem Of Instruction ( PSI )

Personalized System of Instruction ( PSI ) dalam pelaksanaan sudah mencerminkan system pembelajaran individual, dengan beberapa modifikasi. Langkah yang ditempuh dalam pembelajaran ini sangat memperhatikan perbedaan individual. System pembelajaran menggunakan semacam programa. Selain itu juga menggunakan pendekatan dengan demonstrasi dengan menggunakan beberapa media pembelajaran.

Suatu hal yang dapat menambah keefektifan system ini adalah penggunaan tutor teman sebaya untuk membantu siswa yang memerlukan bantuan dalam rangka penguasaan materi. Tutor diambilkan dari teman sebaya yang telah menguasai materi dalam kompetensi dasar yang disajikan.

System ini memberi memberi kesempatan setiap siswa untuk maju menurut kecepatan dan kemampuan masing –masing siswa dalam rangka penguasaan materi dalam kompetensi dasar.

Tes digunakan sebagai feed back dengan bantuan siswa yang telah menguasaan materi pembelajaran

Ciri – ciri penting dari pembelajaran dengan personalized system of instruction ( Sumiati, 2009:117-118) sebagai berikut :

  1. Memungkinkan siswa maju menurut kemampuan masing –masing ( self reced learning )
  2. Adanya persyaratan penguasaan yang sempurna bagi setiap unit pel;ajaran sebelum maju ke unit pelajaran berikutnya.
  3. Menggunakan cermah dan demoonstrasi sebagai alat untuk memberi motivasi kepada siswa.
  4. Komunikasi guru siswa ditekankan pada penggunaan materi – materi pembelajaran tertulis dalam bentuk programa.
  5. Menggunakan system proctor yaitu pemberian tes secara berulang –ulang untuk memberikan penilian secara cepat dan sebagai umpan balik bagi pemberian bantuan kepada siswa yang membutuhkan.
  6. Memnggunakan siswa tutor yaitu siswa yang pandai memberi bimbingan belajar kepada yang kurang atau lemah, sehingga seluruh siswa dapat mencapai taraf penguasaan penuh terhadap unit pelajaran yang dipelajarai.

Prosedur pelaksanaan pembelajaran dengan system personalized system of instruction adalah sebagai berikut :

  1. Merumuskan sejumlah tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh siswa sebagaimana yang terumus pada strategi Bloom.
  2. Menentukan patokan penguasaan atau mastery untuk materi pembelajaran yang akan dipelajari
  3. Merumuskan satuan pelajaran yaitu merupakan pokok – pokok bahasan yang akan dipelajari.
  4. Pokok- pokok bahasan itu dipecah – pecah ke dalam bagian – bagian lebih kecil sehingga dapat dipelajari secara tuntas.
  5. Prosedur pembelajaran ditentukan untyuk dilakukan siswa dalam rangka mempelajari atau mencapai tujuan . prosedur itu tercermin pada rumusan :

1)               Daftar tujuan pembelajaran pada suatu pelajaran

2)               Sejumlah saran belajar yang menekankan pada membaca materi tertulis atau materi lain.

3)               Sejumlah kegiatan belajar untuk memberikan rangsangan berpikir dan bimbingan belajar. Kadang –kdang dilakukan ceramah, demonstrasi dan diskusi.

4)               Sejumlah soal tes yang berkaitan dengan tujuan dari pada satuan pelajaran yang dipelajarai tersebut.

  1. Setiap siswa mempelajari unit- unit pelajaran dengan kecepatan sesuai dengan kemampuan masing –masing.
  2. Tes diikuti oleh seluruh siswa, dengan bantuan siswa yang telah mencapai ketuntasan dalam memeriksa hasil tes siswa.
  3. Memberi bantuan bimbingan melalui tutor kepada siswa yang tidak atau belum dapat mencapai tingkat penguasaan penuh. Tutoring dilakukan oleh siswa pandai atau telah mencapai penguasaan penuh.
  4. Evaluasi sumatif pada saat seluruh unit atau satuan pelajaran selesai dipelajari untuk menentukan angka keberhasilan.

4.      Ketuntasan Belajar ( Daya Serap )

Ketuntasan belajar merupakan proses pembelajaran yang dilakukan dengan sistemmatis  dan berstruktur sehingga siswa secara klasikal akan  penguasaan materi pembelajaran yang disajikan oleh guru baik secara konsep maupun penerapan.

Ketuntasan belajar dilandasi oleh dua asumsi bahwa  1) adanya korelasi antara tingkat keberhasilan dengan kemampuan potensial ( bakat ).  John B. Carrol menyatakan  bahwa anak didik apabila didistribusikan secara normal dengan memperhatikan kemampuannya secara potensial  untuk beberapa bidang pengajaran, kemudian mereka diberi pengajaran yang sama dan hasil belajarnya diukur,  ternyata menunjukkan distribusi normal. Hal ini berarti bahwa anak didik yang berbakat cendurung memperoleh nilai tinggi ( H. Martinis Yamin , 2007 : 130 ).   2). Apabila pembelajaran dilaksanakan secara sistematis dan berstruktur, maka semua peserta didik akan mampu menguasasi bahan yang disajikan guru kepada siswannya.

Pada prinsipnya ketuntasan belajar akan menciptakan peserta didik memiliki kemampuan dan mengembangkan potensi yang dimilikinya, mengecilkan perbedaan antara anak cerdas dengan anak yang tidak cerdas. Ketuntasan belajar menciptakan anak didik dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga secara klasikal tidak ada anak cerdas akan mencapai semua tujuan pembelajaran sedang anak yang tidak cerdas hanya mencapai sebagai tujuan pembelajaran atau tidak sama sekali tujuan pembelajaran.

Menurut John B Carrol ( dalam H. Martinis Yamin  2007 : 131 )   bahwa peserta didik yang berbakat tinggi mememerlukan waktu yang relatif sedikit untuk mencapai dayaserap penguasaan bahan pembaelajaran dibanding dengan siswa yang memeiliki bakat rendah. Untuk siswa yang kurang memiliki bakat diberi alokasi waktu yang lebih longgar dengan diberi tugas –tugas secara mandiri.

Menurut Winkel ( 1996 : 414 ) bilamana seorang siswa tidak mencapai tingkat keberhasilan yang dituju , hal ini tidak disediakan jumlah waktu yang cukup, sesuai dengan kebutuhan siswa atau karena waktu yang disediakan dan sebenarnya cukup itu, tidak digunakan dengan sungguh –sungguh. Dengan demikian tingkat penguasaan dalam belajar tergantung dengan jumlah waktu yang disediakan. Misalnya, bila seseorang siswa hanya belajar dengan sungguh – sungguh selama 2 jam, padahal disediakan jumlah waktu 3 jam, maka tingkat penguasaan atau tingkat keberhasilan hanya mencapai 67 % dari target yang direncanakan. Waktu yang disediakan untuk belajar, selain tergantung pada kecepatan belajar siswa, juga ikut ditentukan oleh kualitas pengajaran dan kemahiran siswa untuk menangkap suatu uraian dalam bentuk lisan dan tertulis.

Untuk mencapai ketuntasan belajar diperlukan strategi pembelajaran. Winkel ( 1996 : 413 ) menyarankan :

1)            Taujuan – tujuan pembelajaran yang harus dicapai ditetapkan secara tegas.

2)            Pertama ditintut supaya siswa mencapai tujuan pembelajaran lebih dahulu , sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran baru.

3)            Ditingkatkan motivasi belajar siswa dan efektivitas usaha belajar siswa, dengan memonitor proses belajar siswa melalui testing berkala dan kontinyu.

4)            Diberikan bantuan atau pertolongan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan belajar.

Dari uraian di atas perlunya strategi pembelajaran yang tepat agar ketuntasan belajar siswa dapat tercapai yaitu penguasaan materi 76 % untuk setiap siswa dan  secara klasikal mencapai ketuntasan 85 %. Dan untuk mengukur ketuntasan belajar tersebut diadakan evaluasi secara berkala. Apabila hasil evaluasi tidak mencapai batas tuntas tersebut diperlukan tindakan khusus seperti tugas mandiri kepada siswa.

5.      Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Korupsi berasal dari bahsa latin yaitu corruption ( penyuapan) dan corruptus ( merusajk ) . Secara harafiah berarti perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang, sogok dan sebagainya ( W.J.S. Poerwodarminta dalam KBBI : 1976 ). Menurut Subekti dan Tjitrosoedibio dalam Kamus Hukum ( 1996 ) , corruptiie adalah korupsi , perbuatan orang, tindak pidana yang merugikan keuangan negara. Jadi secara harafiah korupsi suatu yang busuk, jahat dan merusak.

Korupsi merupakan suatu perbuatan melawan hokum yang merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara. Untuk itu pemberantasannya berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana korupsi. Maka bangsa Indonesia sepakat untuk meberantas korupsi.

6.      Karakteristik Siswa SMP

Ciri siswa merupakan unsur penting yang dijadikan pertimbangan dalam merancang pembelajaran terutama terutama latar belakang akademik dan sosial, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih berati dan bermakna. Proses pembelajaran akan menciptakan situasi belajar yang aman, nyaman dan kondusif apabila siswa lebih berperan aktif. Siswa dalam proses pembelajaran merupakan subyek oleh sebab itu perlu adanya rangsanganbelajar yang dapat menimbulkan respon belajar.

Menurut Gage ( dalam H. Martinis Yamin 2007 : 19-20 ) , Gage menyebutkan bahwa fase belajar terjadi setelah mendapat peristiwa model yaitu :

  1. Fase perhatian ( attentional phase )

Fase pertama dalam belajar adalah observasional ialah memberi perhatian pada suatu model. Pada umumnya para siswa memberikan perhatian pada model –model yang menarik , berhasil menimbulkan minat dan populer. Sebagai contoh dapat dilihat di kalangan anak –anak remaja yang mengikuti model di iklan, warna rambut, menata rambut, cara berpakaian dan lainnya.

  1. Fase retensi ( retention phase )

Fase retensi adalah memberi pengulangan, Ratna Wilis Dahar ( dalam Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan, 2007 : 19 ) menyebutkan fase retensi terjadi melalui kontiguitas dari belajar observasional. Dua kejadian contiguous yang diperlukan adalah perhatian pada penampilan model dan penyajian simbolik dari penampilan itu dalam memori jangka panjang.

  1. Fase reproduksi ( reproduction phase )

Dalam fase ini bayangan atau kode – kode simbolik verval dalam memori membimbing menampilkan yang sebenarnya dari perilaku yang baru diperoleh.

  1. Fase motivasi ( motivational phase )

Fase terakhir dalam proses belajar observational ialah fase motivasi. Para siswa meniru suatu model, sebab mereka merasa bahwa dengan berbuat demikian akan meningkatkan kemungkinan untuk memperoleh reinformsemen.

Demikian juga karakteristik siswa kelas 8 F SMP Negeri 2 Kebakkramat, dalam proses pembelajaran diperlukan motivasi – motivasi. Salah satu motivasi untuk meningkatkan keberhasilan siswa dengan lembar kerja.

Hipotesis

Dengan demikian dapat diduga bahwa: Pendekatan Personalized System of Instruction ( PSI ) dapat Meningkatkan Ketuntasan Belajar  Materi Pemberantasan KKN pada Siswa Kelas 8 F  Sekolah Menengah Petama Negeri 2 Kebakkramat  Tahun Pelajaran 2012/ 2013

C. METODOLOGI PENELITIAN

1. Setting Penelitian

a.   Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yaitu pada Januari 2013 – Mei   2013.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di SMP Negeri 2 Kebakkramat pada pembelajaran PKn siswa kelas VIII F tahun pelajaran 2013/2013. Alasan peneliti mengadakan penelitian di SMP Negeri 2 Kebakkramat karena penulis adalah guru pada SMP Negeri 2 Kebakkramat untuk mata pelajaran PKn di Kelas  VIII F

2. Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII F SMP Negeri 2 Kebakkramat tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah  32 siswa.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini berasal dari siswa yang merupakan sumber data primer. sumber data primer yaitu dari nilai ulangan harian siswa baik sebelum maupun sesudah tindakan kelas. Adapun sumber data sekunder berasal dari data hasil pengamatan yang dilakukan teman sejawat.

4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk mengumpulkan data dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan teknik sebagai berikut :

  1. Untuk mengamati kehadiran siswa diperoleh dari daftar absensi kelas
  2. Untuk mencatat kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlang-sung, digunakan lembar pengamatan seperti yang tampak pada lampiran, lembar pengamatan diisi oleh pengamat, dalam hal ini ada dua orang dan peneliti.
  3. Untuk menilai pemahaman dan prestasi belajar siswa digunakan ulangan harian, bentuknya dapat dilihat pada lampiran.
  1. 5.   Validitas Data    

Validitas data atau keabsahan data merupakan kebenaran data dari proses penelitian. Agar data yang diamati valid, maka penelitian ini tidak hanya diamati peneliti saja namun juga diamati oleh teman sejawat atau observasi.

  1. 6.   Analisis Data

Cara menganalisa data dalam penelitian ini secara kualitatif. Data kualitatif dimunculkan dalam bentuk deskripsi angka, nilai ulangan harian mata pelajaran PKn siswa. Sedangkan data kualitatif dimunculkan dalam bentuk catatan harian observer, jadi dari hasil pengamatan.

  1. 7.       Prosedur Penelitian

Kegiatan penelitian ini mengikuti siklus seperti yang dukemukakan oleh Madya (dalam Suroso, 2007 : 35), yaitu penyusunan rencana, pelaksanaan, tindakan/ observasi, dan refleksi.

  1. Perencanaan

Peneliti membuat perencanaan pembelajaran yang mengacu pada strategi pembelajaran dengan lembar kerja siswa. Penulis juga menggunakan berbagai macam media seperti transparan.

  1. Pelaksanaan

Peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan perencanaan yang dibuat.

  1. Observasi

Peneliti memantau proses dan dampak pembelajaran yang diperlukan, yang kemudian digunakan untuk langkah perbaikan.

  1. Refleksi

Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, kemudian dilakukan refleksi untuk melihat kekurangan atau kelemahan yang telah terjadi. Hasil refleksi ini akan digunakan dalam perencanaan siklus berikutnya.

8.         Rancangan Kegiatan

Kegiatan penelitian tindakan kelas ini dimulai pada awal bulan Januari 2013 dengan penjajagan awal untuk memperoleh informasi awal mengenai prestasi belajar PKn, serta untuk memperoleh informasi tentang siswa yang belum menguasai atau yang sulit untuk menerima materi pelajaran yang dijelaskan oleh guru. Hasil penjajagan awal ini akan digunakan untuk merencanakan keputusan tindakan pada kegiatan penelitian selanjutnya.

Rancangan tindakan dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode proses, dimana setiap minggu dilaksanakan pembelajaran dengan penyelesaian soal secara terbimbing sesuai materi pelajaran PKn kelas VIII F  Sekolah Menengah Pertama. Pada setiap akhir minggu, dilakukan refleksi oleh peneliti untuk menentukan tindakan pada minggu berikutnya. Rancangan tindakan dilakukan selama 3 (tiga) siklus dengan setiap siklus selama satu minggu. Adapun rancangan tindakan dilakukan selama 3 (tiga) siklus dengan uraian sebagai berikut :

  1. Siklus Pertama

Siklus pertama memberikan pembelajaran dengan materi : Pengertian korupsi. Siklus pertama ini  dilaksanakan pada bulan Januari 2013

  1. Siklus Kedua

Siklus kedua memberikan pembelajaran dengan materi : perkembangan kasus korupsi di Indonesia .  Siklus kedua ini dilaksanakan pada bulan Januari 2013

  1. Siklus Ketiga

Siklus ketiga membahas materi materi : Instrumen Kelembagaan Anti Korupsi di Indonesia . Siklus ketiga ini dilaksanakan pada bulan Februari    2013.

Sesuai dengan prinsip-prinsip tindakan kelas, masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu : (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan interpretasi, dan (4) analisis dan refleksi untuk perencanaan berikutnya.

Kegiatan penelitian ini merupakan kolaborasi antara siswa, guru, dan seorang pengamat. Adapun kegiatan guru, siswa, dan pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah   :

1.   Kegiatan Guru sebagai peneliti

Guru sebagai pelaku utama dalam penelitian tindakan kelas ini melakukan kegiatan proses pembelajaran pada jam pelajaran sesuai jadwal bulanan.

Adapun uraian kegiatan sesuai jadwal mingguan sebagai berikut :

  1. Bulan Pertama (Siklus I)

Pada bulan pertama menggunakan strategi pengenalan materi, pemberian motivasi, dan menjelaskan tujuan kompetensi dasar sebagai awal pertemuan.

  1. Bulan Kedua (Siklus II)

Minggu kedua ditingkatkan menjadi pemberian tugas berupa metode pembe-lajaran dengan lembar kerja  pada kompetensi dasar pelaksanaan demokrasi dalam kehidupan sehari – hari . Hasil dari tugas awal ini dinilai guru dengan maksud memberikan motivasi kepada siswa, agar siswa yang belum menguasai materi dari guru di hari selanjutnya mendapatkan nilai yang lebih baik. Guru memberikan pujian sebagai penguatan (reinforcement) bagi siswa untuk meningkatkan diri, serta memberikan saran kepada siswa yang belum menguasai materi dan nilainya kurang baik untuk selalu meningkatkan diri dengan cara terus belajar dan rajin mengerjakan soal-soal yang ditugaskan oleh guru. Selain yang dilaku-kan tersebut di atas guru juga mencatat apa yang telah dilakukannya dan mencatat perkembangan kemampuan dan kecakapan siswa dalam mengerjakan tugas setiap hari dengan menggunakan lembar catatan.

  1. Bulan Ketiga (Siklus III)

Pada akhir pertemuan guru mengadakan tes/ulangan harian untuk mengetahui sejauh mana siswa mencapai tujuan belajarnya hasil dari tes ini dicatat oleh guru, dan digunakan sebagai dasar untuk meng amati perkembangan prestasi siswa dari hari ke hari.

Pada waktu refleksi, guru dapat melihat kembali apa yang telah dilakukan dan perkembangannya, serta bersama peneliti lain digunakan sebagai bahan diskusi untuk menyusun rencanan tindakan pada minggu berikutnya.

2.   Kegiatan Siswa

Siswa sebagai subjek peneliti yang dikenai tindakan mengikuti pembelajaran, menyelesaikan tugas yang diberikan guru, dan memberikan reaksi terhadap setiap tindakan guru. Siswa diharapkan untuk selalu berusaha meningkatkan diri dengan terus-menerus berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan guru di kelas maupun di luar kelas. Dengan demikian siswa termotivasi untuk selalu rajin belajar demi meningkatkan kemampuan dan kecakapan dirinya.

  1. Kegiatan Pengamat sebagai pembantu Peneliti

Teman sejawat mengadakan  pengamatan pada saat guru melakukan proses pembelajaran di dalam kelas, dengan menggunakan lembat pengamatan dan mencatat perkembangan kecakapan dan kemampuan siswa. Pada waktu kegiatan refleksi, pengamat membantu guru dan memberikan masukan-masukan terhadap tindakan yang telah dilakukan dan merencanakan bersma-sama tindakan yang akan dilakukan. Teman sejawat melakukan pengamatan setiap siklus yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran.

Setiap siklus diakhiri dengan kegiatan refleksi, peneliti (guru) dan dibantu oleh seorang teman sejawat bersama-sama mengevaluasi, menganalisis, dan menginterpretasikan data yang telah diperoleh dengan menggu-nakan analisis deskriptif, presentase, dan merata-rata nilai perorangan dari hasil pengerjaan tugas. Hal ini dilakukan untuk mengetahui perubahan dan perkembangan kecakapan dan kemampuan siswa dalam menguasai materi pembelajaran. Hasil refleksi ini ditindaklanjuti dengan upaya pengem-bangan tindakan selanjutnya dengan meningkatkan taraf kesukaran tindakan dari pemberian tugas awal, ke dalam proses kemudian tugas akhir pemberian tes formatif dan ditindaklanjuti dengan pekerjaan rumah. Demikian juga pemantauan tujuan pada perkembangan kemampuan siswa dalam menerapkan hasil penyelesaian tugas untuk mempermudah mengerjakan soal-soal berikutnya dalam ulangan harian. Perkembangan perubahan ini selalu dipantau dan dicatat oleh guru dan pengamat.

Jika tindakan guru dalam setiap putaran dari hasil refleksi ternyata belum menghasilkan perubahan seperti yang diharapkan, guru wajib berusaha untuk terus-menerus memberikan motivasi, agar siswa selalu mau meningkatkan kecakapan dan kemampuan terhadap penguasaan materi pelajaran dengan teknik selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru dengan cermat dan tekun setiap saat.

DAFTAR  PUSTAKA

Abdurrahman, M. 1999. Metode Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta

Ahmadi,  A., dan Supriyono, W. 1991. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Rineka Cipta.

Arifin, Z. 1990. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik Prosedur. Bandung : Remaja  Rosdakarya.

Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati ( 1986 ), Ilmu Pendidikan, Bandung : Penerbit Rineka Cipta

Alimudin Tuwu ( 1993 ), Pengantar Metode Pendidikan, Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

Herman J. Waluyo ( 1986 ), Metode Penelitian Induktif, Surakarta : FKIP UNS

Ibrahim R. Dan Nana Saodih S ( 1993 ), Pendekatan dan Metode Belajar Aktif, Bandung : Penerbit Angkasa

Martinis Yamin, H. (2007 ), Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta : Gaung Persada Pres.

Moedjiyono dan Moh. Dimyati ( 1992 ), Penggunaan Sumber dan Media Belajar , Jakarta : Dirjen Dikdasmen

Muhibbin Syah ( 1995 ) , Psikologi Pendidikan, Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nasution S ( 1982 ), Didaktik Asas – asas Mengajar , Bandung : CV.Remaja Rosdakarya

Nasution, Noehi ( 1989 ), Psikologi Pendidikan  , Jakarta : Universitas Terbuka

Ngalim Purwanto M ( 1988 ), Ilmu Pendidikan, Bandung : CV.Remaja Rosdakarya

Ngalim Purwanto ( 1988 ), Ilmu Pendidikan, Bandung : PT.Remadja Karja

Pasaribu, LL dan B.Simanjuntak ( 1983 ), Proses Belajar Mengajar, Bandung : Tarsito

Poerwodarminto, WJS ( 1989 ), Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : PN. Balai Pustaka

Ratna WD, (2007 ), Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Penidikan, Jakarta

Rochman N dan Moesa M ( 1992 ), Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rajawali

Sigit, TH. ( 1985 ), Dasar Kependidikan, Surakarta : UNS

Sudjana, Nana ( 1991 ), Penilian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung : Remaja Rosdakarya

Suharsimi Arikunto (1998 ), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatran Praktek, Jakarta : PT.Reneka Cipta

Suhendra Yusuf ( 1995 ), Enslikopedia Bahasa Indonesia, Bandung : Mandar Maju

Sumadi Suryabrata ( 1984 ), Psikologi Pendidikan, Jakarta : CV.Rajawali

Sumiati dkk, (2009), Metode Pembelajaran, Bandung: CV. Wacana Prima

Suroso (2007 ), Prosedur Penelitian, Bandung

Sutrisno Hadi ( 1991 ), Metodologi Riseach Jilid I, Jogyakarta : Falkutas Psikologi UGM

Winkel, WS. 1991. Psikologi Pengajaran. Jakarta : PT Grasindo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s